Laman

Friday, 9 September 2016

Surat untuk Lalang

Surat untuk Lalang
Oleh Aisyah Mega Nuraini

“Ketika tiba saat perpisahan, janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.” –Kahlil Gibran
Begitulah kata sang pujangga, Kahlil Gibran. Jangan iringi perpisahan dengan berduka. Jika terlarut dalam kesedihan, kita mungkin tidak akan menyadari bahwa dari jauh, semuanya terlihat indah dan sempurna. Perpisahan itu bukan untuk dikekang atau ditangisi, perpisahan itu untuk dilewatkan, karena bagaimana pun perpisahan adalah awal perjalanan hidup yang panjang.
Berpisah dengan Desa Lalang merupakan awal perjalanan hidup kami, dan itu tidak akan pernah dilalui dengan mudah. Ucapan selamat tinggal, lambaian tangan terakhir, iringan tangis kepergian, suara pesawat terbang, dan hari dimana semua itu terjadi, tidak mudah terlupakan. Perpisahan menyisakan perasaan sedih dan asing. Sedih karena tidak akan berjumpa lagi. Dan asing karena meninggalkan rutinitas yang telah nyaman dilakukan.
Ada yang berbeda di pagi itu. Ketika seharusnya kami berpencar, keliling desa menjalankan program, kami justru asyik berkumpul. Berkumpul dengan suasana syahdu kesedihan. Kami akan berpamitan. Masa bakti kami telah berakhir. Dan mau tidak mau, kami harus pulang meninggalkan beribu kenangan di Desa Lalang.
Sudah 50 kali 24 jam kami tinggal sejenak di suatu desa bernama Desa Lalang. Jauh dari orang tua, jauh dari rutinitas perkuliahan, dan jauh pula dari kenyamanan hidup seperti di Yogyakarta. Terbang jauh menuju suatu desa di Belitung Timur tidak akan kami lakukan jika tidak ada kegiatan bernama KKN, Kuliah Kerja Nyata. Suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa UGM yang menuju tingkat akhir. Kami dituntut untuk mengabdikan ilmu yang telah diberikan di bangku perkuliahan, untuk masyarakat. Dan di Desa Lalang-lah yang kelompok kami pilih sebagai tempat kami mengabdi.
Desa Lalang yang terletak di Pulau Belitung ini menawarkan keindahan alam yang tiada habisnya, penduduk yang ramah nan baik hati dan seni serta budaya yang masih lestari. Semua itu sempat kami nikmati saat kami tinggal di sana. Keindahan alam sangat mudah untuk didapatkan. Pantai Nyiur Melambai dapat dinikmati hanya dengan berjalan kaki. Bukit Samak dengan keindahan pemandangan dari atas desa dapat menjadi alternatif pilihan di kala suntuk. Pantai Olipier dengan dermaga hancurnya dapat digunakan untuk memancing dan bersantai sejenak. Dan juga terdapat Kulong Minyak, dengan keunikan cerita di balik namanya sebagai tempat menikmati matahari tenggelam di tengah desa.
Ada satu lagi yang mudah ditemui di desa Lalang. Satu hal yang membuat kami berdecak kagum dan merasa tersanjung. Betapa baik dan ramah para penduduk desa ini. Tidak segan menolong dan sangat memuliakan tamu. Banyak undangan yang ditujukan pada kami. Mengundang kami untuk bercengkrama dan mampir untuk menyantap sajian terbaik yang mereka siapkan. Ajakan undangan itu pun bukan sekadar undangan basa-basi, melainkan undangan yang berasal dari hati. Pertolongan yang mereka berikan pun bukan main banyaknya. Jika kami meminta satu, maka mereka memberi sepuluh. Kami sudah seperti mendapat orang tua baru di tanah nan jauh dari asal kami. Kasih sayang mereka sudah selayaknya kasing sayang yang diberikan orang tua. Oleh karena itulah kami semakin betah tinggal di sana. Ada pula riuh keramaian adik-adik sekolah dasar. Mereka mendapatkan sosok kakak yang sekaligus banyak, pun kami yang mendapatkan sosok adik yang dapat kami sayangi.
Seni dan budaya sudah menjadi unsur lain bagi penduduk Desa Lalang untuk bernapas. Mereka tidak bisa terlepas dari dua hal itu dan sangat menghormati untuk melestarikannya. Seperti makan bedulang, likuran, keseninan rudat, ngelasak, musik campak, hadra, dan lain sebagainya. Dan beruntungnya kami, semua itu sempat kami nikmati selama tinggal di sana.
Terik matahari sangat berbeda dari yang biasa kami rasakan di Yogyakarta. Di Desa Lalang, panas matahari begitu hebat. Tetapi itu tidak menyurutkan niat dan tekad kami untuk melaksanakan program kami untuk Desa Lalang. Dengan adanya empat klaster, yaitu kesehatan, saintek, agro, dan soshum, membuat kerja kami semakin terfokus. Hampir setiap pagi kami berpencar keliling desa untuk menjalankan program kami, khusus untuk Desa Lalang. Tidak sedikit yang kurang lancar, tetapi tidak sedikit pula program yang dapat dikatakan berhasil.
Melalui program-program yang kami lakukan, kami tidak hanya mengabdikan ilmu yang kami miliki, tetapi juga kami berproses menuju kedewasaan. Kami pun banyak belajar dari para penduduk Desa Lalang melalui interaksi dengan mereka dan kebiasaan yang diajarkan.  Karena belajar tidak hanya melalui buku-buku dan bangku perkuliahan. Belajar bisa dari mana saja. Belajar mengenai teori dari sang ahli. Belajar penerapan ilmu dari yang lebih berpengalaman. Serta belajar bagaimana hidup bermasyarakat. Semua pelajaran yang kami dapatkan begitu berharga, tidak bisa dibeli dan digantikan dengan apapun.
Dan tibalah di suatu waktu kami harus pergi meninggalkan semua rutinitas kami. Berpisah bukan perkara yang mudah. Berpisah selalu diiringi dengan keresahan hati. Akankah bertemu kembali? Akankah merasakan perasaan yang sama? Dan akankah sanggup membendung rindu yang bertumpuk? Namun yang perlu diketahui adalah, perpisahan bukan akhir dari perjalanan, justru merupakan awal dari perjalanan yang panjang. Perjalanan penuh bekal hasil pembelajaran dan pendewasaan selama tinggal di Desa Lalang.


Jika ditawari untuk datang kembali ke desa ini, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menyanggupinya. Dan saat beberapa waktu lalu tiba di Yogyakarta, saya langsung rindu. Rindu rutinitas yang biasa dilakukan selama KKN. Rindu kasih sayang orang tua. Rindu menikmati seni dan budaya khas Desa Lalang. Dan rindu keindahan alam yang sangat memanjakan mata. Entah mengapa rindu ini begitu candu, harus diobati dengan bertemu. Sampai jumpa lagi, Lalang. Izinkan kami kembali, suatu saat nanti.

No comments:

Post a Comment