Laman

Saturday, 14 July 2012

Ketika Jatuh Cinta

Allahurabbi, izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta, pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuatku semakin mengagumimu.

Allahurabbi, bila suatu saat ku jatuh hati, pertemukanlah kami, berikanlah kami kesempatan untk lebih mendekati cinta-Mu.

Allahurabbi, pintaku adalah seandainya ku jatuh hati, jangan pernah kau palingkan wajah-Mu dariku, anugerahkan aku cinta-Mu, cinta yang tak pernah pupus oleh waktu.

Allahurabbi, aku punya pinta, bila suatu saat ku jatuh cinta, penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu hinga tak terbatas, agar rasaku pada-Mu tetap utuh.



Took from somewhere, I forget where it was.

Sampai Kapan?


Kamu mau sampe kapan nutup mata, hati, telingamu?
Sampe kapan mau nyakitin dirimu?
Saya tidak tahu mengapa, ada apa, dan bagaimana hal-hal ini bekerja.
Bekerja mempengaruhi lakuku.
Sesaat setelah semua itu melintas dan berotasi di otakku, entah kenapa tubuhku terasa tak berdaya.
Dan hanya bisa menitikkan butiran-butiran perak, tanpa alasan yang jelas.
Tapi ada alasan yang kuat dibalik itu semua.
Yaitu kamu.

Saturday, 7 July 2012

Tetap Tinggal?

Tidak, jujur aku tidak ingin beranjak.
Tapi apakah ada alasan untukku tetap tinggal barang sejenak?
Tidak semua hal bisa kau beberkan seenaknya saja kepada selain kamu.
Hati-hati. 
Ya, hati-hatilah.

Sunday, 1 July 2012

I know the truth. But I believe in hope.

Aku tak tahu macam lakon apa yang kau mainkan.
Aku tak tahu apakah hal-hal yang kurangkai sejalan dengan yang kau pikirkan.
Aku tak tahu maksud dari semua hal sebelum si empunya semua hal membagi kisahnya denganku yang mungkin akan menyakitkan.
Akupun tak tahu banyak hal yang telah berlalu mengandung makna (mendalam) tersendiri atau tidak dalam kenyataan.
Yang aku tahu, semua itu semu. Hanya sesaat, sekejap, dan mungkin (tidak) seperti apa yang semestinya berjalan.

Kenapa?

Kenapa?
Kenapa selalu kamu?
Yang membuat aku selalu bermain permainan pengandaian yang sangat kejam.

Kalimat Itu.

Beberapa kalimatmu.
Ya, kalimat tanya memang.
Tapi, itu kalimat retoris, bukan?
Apakah kau sadar jika kalimat yang kau lontarkan itu mengandung banyak arti?
Arti yang mendalam.
Arti yang menghapus senyuman dengan perlahan.

Pernahkah?

Pernahkah suatu kali kau berpikir apa yang akan terjadi jika tawaku tak kuasa menahan hujan yang turun?
Apakah dunia akan berakhir?