Laman

Friday, 21 September 2012

Kunci Hati


Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.

Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutra. Berkata-kata dengan bahsa yang hanya dipahami oleh nurani.

Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik.
Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya, duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia?
Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya.
Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.

Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

[1998] Oleh Dee Lestari

Wednesday, 22 August 2012

Hijab Style

On Saturday, August 11th there's Jilbab Syar'i competition in my school.
I was the stylish coordinator in my class. And my friend, Nurma was the model.
Here is the photos..




This is all the models from all class which join the competition..


And guess what? My class won the first place! Yayyyy

Saturday, 18 August 2012

Ada kejujuran yang tersirat dalam sebuah candaan.

Jujur

Jujur.
Hanya jujur yang bisa seperti itu.
Mencerahkan segalanya.
Merekahkan senyuman.
Atau malah menghilangkan lengkungan di bibirmu hingga butiran perak itu jatuh tak tertahan?
Ya, hanya jujur yang bisa bertingkah, seperti itu.
Lima langkah, kau ikuti.
Sepuluh langkah pun juga kau ikuti.
Tapi, ternyata kau tidak mengikuti yang hanya satu langkah.
Meski begitu dekat, apakah begitu sulit untuk tidak memendamnya, seorang diri?

Saturday, 14 July 2012

Ketika Jatuh Cinta

Allahurabbi, izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta, pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuatku semakin mengagumimu.

Allahurabbi, bila suatu saat ku jatuh hati, pertemukanlah kami, berikanlah kami kesempatan untk lebih mendekati cinta-Mu.

Allahurabbi, pintaku adalah seandainya ku jatuh hati, jangan pernah kau palingkan wajah-Mu dariku, anugerahkan aku cinta-Mu, cinta yang tak pernah pupus oleh waktu.

Allahurabbi, aku punya pinta, bila suatu saat ku jatuh cinta, penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu hinga tak terbatas, agar rasaku pada-Mu tetap utuh.



Took from somewhere, I forget where it was.

Sampai Kapan?


Kamu mau sampe kapan nutup mata, hati, telingamu?
Sampe kapan mau nyakitin dirimu?
Saya tidak tahu mengapa, ada apa, dan bagaimana hal-hal ini bekerja.
Bekerja mempengaruhi lakuku.
Sesaat setelah semua itu melintas dan berotasi di otakku, entah kenapa tubuhku terasa tak berdaya.
Dan hanya bisa menitikkan butiran-butiran perak, tanpa alasan yang jelas.
Tapi ada alasan yang kuat dibalik itu semua.
Yaitu kamu.

Saturday, 7 July 2012

Tetap Tinggal?

Tidak, jujur aku tidak ingin beranjak.
Tapi apakah ada alasan untukku tetap tinggal barang sejenak?
Tidak semua hal bisa kau beberkan seenaknya saja kepada selain kamu.
Hati-hati. 
Ya, hati-hatilah.

Sunday, 1 July 2012

I know the truth. But I believe in hope.

Aku tak tahu macam lakon apa yang kau mainkan.
Aku tak tahu apakah hal-hal yang kurangkai sejalan dengan yang kau pikirkan.
Aku tak tahu maksud dari semua hal sebelum si empunya semua hal membagi kisahnya denganku yang mungkin akan menyakitkan.
Akupun tak tahu banyak hal yang telah berlalu mengandung makna (mendalam) tersendiri atau tidak dalam kenyataan.
Yang aku tahu, semua itu semu. Hanya sesaat, sekejap, dan mungkin (tidak) seperti apa yang semestinya berjalan.

Kenapa?

Kenapa?
Kenapa selalu kamu?
Yang membuat aku selalu bermain permainan pengandaian yang sangat kejam.

Kalimat Itu.

Beberapa kalimatmu.
Ya, kalimat tanya memang.
Tapi, itu kalimat retoris, bukan?
Apakah kau sadar jika kalimat yang kau lontarkan itu mengandung banyak arti?
Arti yang mendalam.
Arti yang menghapus senyuman dengan perlahan.

Pernahkah?

Pernahkah suatu kali kau berpikir apa yang akan terjadi jika tawaku tak kuasa menahan hujan yang turun?
Apakah dunia akan berakhir?

Sunday, 10 June 2012

Should I?

Should I smile because we are friends?

Or cry because we'll never be anything more?

Tuesday, 3 April 2012

Terimakasih.

Terimakasih.
Terimakasih Tuhan, atas semua yang telah Kau berikan kepadaku.
Terimakasih atas kesehatan, rezeki, dan semua-muanya.

Terimakasih.
Terimakasih Ibu, dirimu masih menyayangiku.
Terimakasih atas jasamu yang tak bisa aku balas satu per satu.

Terimakasih.
Terimakasih Arin, yang setia menjadi sahabatku.
Yang selalu mendengar keluh kesahku.

Terimakasih.
Terimakasih Milla, Hestina, Laili, Rani, Dyah Ayu, Della, Icha, Arief, dan Elvani.
Terimakasih atas semua yang telah kalian korbankan.

Terimakasih.
Terimakasih Kamu, yang senantiasa menorehkan senyum saat (hampir) setiap hari melihatmu.


Terimakasih Sabtu, aku bersama keluargaku.
Terimakasih Ahad, aku bersama sahabatku.
Terimakasih Senin, aku bersama dia.

Tujuh belas tahun yang sempurna. Yang bahagia. Yang senantiasa ku ingat.

Terimakasih..

Thursday, 1 March 2012

Kamu yang Pergi Selamanya


Kamu.
Kamu yang meninggalkanku.
Menginggalkan Dia, dan Ia.
Kamu yang entah pergi begitu saja.
Kamu yang berada diatas atau di bawah sana.
Kamu yang meninggalkan jejak kerinduan.
Kamu yang tidak permisi untuk pergi.
Dan tidak mengucap sampai jumpa.
Kamu yang hadirnya dulu menyenangkan.
Kamu yang bisa membuatku, Dia dan Ia kehilangan.
Kamu yang baik hatinya.
Kamu yang selalu berada di setiap doaku.
Kamu yang hanya tinggal sejarah.
Kamu..
Kamu..

Pesan yang Terbaca


Ada pesan yang terbaca.
Dari bahasa kesunyian.
Dari bahasa mata kalian.
Aku mengerti.
Aku berada diantara kalian.
Kalian yang berbahasa di depan punggungku.
Kalian..
Ya. Kamu, dan Kamu.
Akankah kamu atau kamu menghianati?
Kamu, dan kamu yang mengerti tentang aku.
Kamu, dan kamu yang membuat gerakku menjadi bahasa.
Bahasamu dan bahasamu.
Bahasa yang awalnya tak ku mengerti.
Bahasa yang semakin lama, semakin menikamku..

Wednesday, 29 February 2012

Dua Puluh Sembilan

Kamu.
Kamu yang hanya satu.
Kamu yang "satu-tiap-empat"
Kamu yang hanya satu kali tiap empat tahun.

Terimakasih ya, Kamu.
Kamu tahu? Hari ini dia menemaniku. Lama.
Dan mungkin itu karena kamu.
Sekali lagi. Terimakasih, Dua Puluh Sembilan.

Kamu

Iya, itu adalah kamu.
Kamu yang membuatku merasakannya.
Apa kamu tahu?
Kamu pergi begitu saja.
Tidak memberiku kesempatan.
Oh memilukan..