Laman

Saturday, 22 July 2017

Are You Really Happy?

We are good at showing people that we are happy even when we’re not.
We want to be seen that way, and in order to do that, we do everything to make ourselves look happy.
We post everything, go everywhere, and have everything in order to be looked happy, because everyone has done that kind of things.
But, at the end, here’s the questions;
Are we having fun or just showing that we are having fun?
Are we really happy or just pretending that we are happy?
What is happiness? Is it consequence of condition or we consciously choose to be happy?

Wanita Cerdas

Wanita dituntut untuk memiliki wawasan yang luas,
berpikir cerdas dan mampu diajak berdiskusi

Tapi bagaimana cara agar itu semua terlihat
jika yang dilakukan lelaki hanya mengajak makan,
mengajak nonton dan menyuruh tidur?

Kepada teman-teman lelaki yang sedang
"memanah" hati wanita pilihannya,
belum terlambat untuk menghentikan itu semua.
sudah bukan jamannya
kalian rundung kami dengan perhatian
"kamu kok belum makan? nanti kamu mati."
Ajak kami berdiskusi, tanyakan apa pendapat kami
tentang isu-isu nasional maupun internasional.
berbesar hatilah untuk mendengar sudut pandang
yang mungkin berkebalikan
dengan apa yang kalian pikirkan.
berbagai macam sektor, berita aktual, passion bahkan
genre musik yang bisa menjadi bahan obrolan.
sekadar pertanyaan;
"eh kamu sudah tahu belum tentanng A?"
wanitamu akan bersinar dengan sejuta pemikirannya
yang kamu tidak menyangka sebelumnya.

Wanita jaman sekarang dipupuk
untuk menjadi cerdas dan pemberani.
saya juga sering menemukan saya dan
teman-teman wanita saya larut akan diskusi
dan tak sekadar bergosip belaka.
bahkan di film "Moana" dan "Brave"
sudah menunjukkan tokoh wanita
yang berani mendobrak belenggu
dan mengejar apa yang ia inginkan.
tak perlu lah tokoh-tokoh wanita lain
yang inspiratif lainnya.
wanita juga merupakan calon pemimpin bangsa,
setidaknya, wanita akan menjadi madrasah pertama
untuk anak-anaknya kelak.

jika kamu ingin mendapatkan wanita yang cerdas,
think again.

sudahkah kamu mendapatkannya dengan cerdas?

-dikutop dari sumber yang lupa darimana :"-

Friday, 21 July 2017

Bahagia Dengan Caranya Masing-Masing

Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang bahagia.

To the point aja, salah satunya adalah uang. Iya…kan?

Gimana nggak bahagia coba kalo bisa beli barang yang diinginkan, atau liburan ke tempat yang diimpikan, atau nonton konser yang artisnya kita suka banget, atau bahagia ketika bisa memberikan sesuatu ke orang tersayang?

Nggak bisa dipungkiri kalo semuanya jelas butuh uang kan yaaa hihi.

Cara mendapatkan sumber kebahagiaan (((sumber kebahagiaan))) itu pun tidak gampang. Ada yang mendapatkannya dengan cara menabung uang saku berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun, ada yang melalui usaha berjualan, dan ada juga yang mendapatkannya dari orang tua.

Ketika spending that money, tentu aja udah dipikirkan sedemikian rupa kan ya. And of course for them whom spend that money, it must be well spent and worth it.

Sebagai orang yang hanya menikmati update-an mereka, kita bisa memilih untuk menjadikannya motivasi.

“Dia bisa nonton konser itu pasti karena nabung, jadi kalo dia bisa, aku juga bisa dong”

“Mau ah nanti liburan pake uang sendiri, kayaknya aku mau jualan ini deh”

Dan sebagainya.

Bukannya malah ngomongin yang negatif mengenai kehidupan dan pilihan orang itu.

“Ih itu kok nonton konser terus sih, eman-eman banget deh uangnya”

“ih si dia kok belanja terus sih”

“si ini kok liburan terus sih kerjaannya”

Hemmm.

Kenapa kita tidak memilih untuk mendukung pilihan yang mereka ambil?
Kita nggak tau seberapa keras perjuangan mereka untuk menabung, berhemat demi bisa beli album koreaan atau liburan ke tempat yang diimpikan.
.
Jadi ya, udahlah guys, nggak usah sok ide mikir yang aneh-aneh. Pilihan dan prioritas setiap orang jelas berbeda. Tinggal bagaimana kita menghargai dan mendukung pilihan mereka. Atau mungkin lebih baik menyibukkan diri dengan sesuatu aja?

Kalo kata anak twitter, akunnya @.misteeerius, dia bilang gini:

“Sibuk itu enak, ya. Nggak kepikir sedikitpun mikirin urusan orang lain.”

What It Called Trend

Trend berputar sangat cepat, kadang kita merasa harus jadi yang terdahulu, dan jangan sampe ketinggalan. Everybody wants to look good. But not everybody looks good about what they wear.
Kalo kamu ga pede ketika ingin mengikuti trend, ya jangan diikuti. Sesuatu yang bikin kita pede saat memakainya, itu adalah sesuatu yang rasanya "kamu" banget, sesuai sama karaktermu, dan kamu nyaman, bahkan mungkin kamu merasa cantik. Nah kalo trendnya sekarang ga sesuai sama karaktermu, ya gak usah dipakai. Nanti jatuhnya maksain dan jadi ga nyaman.

Ngomongin soal trend, sekarang kan lagi ngetrend celana kulot gitu kan. Aku pribadi seneng banget sama trend satu ini dan ingin berterimakasih kepada pencipta trend. Kenapa? Karena sedikit demi sedikit membuat celana jeans ditinggalkan (yay!) Dimana kita seharusnya tidak mengenakan pakaian yang membentuk tubuh, so celana kulot adalah salah satu solusinya. Solusi buat yang mungkin kurang nyaman pake rok (salah satunya mega, soalnya suka bawa banyak barang (re: bawa kembang untuk cod) dan ketika naik motor agak ribet heu kalo pake rok, jadi sekarang whenever wherever pakenya kulot terus haha).

Kenyamanan emang nomor satu, tapi ketika yang nyaman itu yang bisa membuat kita lebih baik, ya kenapa engga kita ikutin? Tapi ya balik lagi tergantung pribadi masing-masing. Semua tergantung niatnya.

Yang penting kita semua punya niat untuk berproses menjadi baik. Definisi baik pun balik lagi, tergantung diri masing-masing. Tapi ada yang perlu diingat, iya, berproses, tapi juga harus ada progres. Jangan cuma bilang ke diri sendiri kalo mau berproses tapi nggak ada progresnya.

Saturday, 15 July 2017

Sendiri

Sendiri itu menyenangkan.
Bebas,
Berjalan kapan pun, kemana pun
Tak perlu ada yang ditunggu.
.
Namun
Sendiri juga menyesakkan
Ketika tertinggal jauh di belakang
Karena terjatuh seorang diri.
.
Dan sendiri itu pilihan.

Ingin sendiri yang seperti apa? Yang bagaimana?



Thursday, 13 July 2017

Life Grows, So Do You

There will always be that time in life when you will need to alter your dreams and compromise your passion, and that is called priority.
No one has the right to stop you from chasing your dreams and living your passion, but the need to reevaluate your priorities will naturally set in as you learn that life is not just about me, but also us and them.
It is very rare that you will get to achieve everything at once, as you learn that even achievements are better when shared.
You would need to dedicate time for others, and that means stretching your life a little bit longer and wider.
You would need more patience to remind yourself that is now requires more effort to focus your own mind because you need to take care of other people and many other things that you initially never thought of.
When it has always been your  #1 priority to reach your dreams, down the read it might become #3 as your main priority today is to send your kid to the best school.
And you learn the concept of compromising… because life grows and so do you/
.

By Diana Rikasari in #88lovelife

Sunday, 18 September 2016

Menanti Tulisanmu

Aku selalu menanti tulisanmu. 
Karena dari mana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. 
Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. 
Aku selalu menunggu tulisanmu. 
Karena dari mana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. 
Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. 
Itu pun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. 
Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. 
Karena dari mana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. 
Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. 
Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. 
Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini.
Teruslah menulis karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. 
Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.

-Kurniawan Gunadi

Tuesday, 13 September 2016

Pilihan

Lagi-lagi, hidup hanya soal pilihan
Memilih untuk bahagia atau pura-pura bahagia
Memilih ikhlas atau terpaksa
Memilih yang baik atau terbaik
Memilih datang di awal atau sengaja terlambat
Memilih berhusnudzon yang membuat hati damai, atau malah resah karena bersuudzon
Pun memilih prioritas dalam hidup
Setiap orang memiliki prioritasnya masing-masing
Yang menurut ia penting, mungkin tak cukup penting bagi yang lain
Semakin ke sini, kita semakin mengenal banyak orang
Tak sedikit pula sifat yang tak sesuai dengan diri sendiri
Meski sifat itu berbeda, ataupun sama, dengan diri sendiri, keduanya bisa melahirkan permasalahan
Tapi ada satu yang perlu dipahami: toleransi.
Terima dan maklumi.

Oleh Meganurainii.
Catatan selama kuliah,
Selasa, 24 Mei 2016.

Monday, 12 September 2016

Lima Belas Tahun Berlalu

Umm hai, selamat..sore? Atau mungkin selamat malam?
Hmm.. *tarik napas* *buang* *tarik napas*
Kuy dimulai…

Hari ini, 15 tahun lalu, ada seseorang yang tidak menepati janjinya menjemput gadis kecilnya dari sekolah. Yang seharusnya pulang jam 3 sore, hingga jam 5 pun tak ada tanda-tanda ia akan dijemput. Gadis kecil itu sampai menunggu sendirian, di ujung gang sekolahnya. Yang awalnya ada beberapa teman yang juga ikut menunggu jemputan, hingga tinggal ia seorang diri. Tak pernah seperti ini, pikirnya. Toh biasanya ia dijemput tepat waktu, dan hanya menunggu di depan sekolah saja, tak sampai berjalan ke ujung gang. Karena sekolahnya beberapa kilometer dari rumah, tak mungkin juga ia jalan kaki untuk pulang. Ia menunggu dengan sabar, tak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu. Hingga suatu ketika, ada yang mengenalinya, menyapanya. Sepasang suami istri, yang ternyata tetangganya, ingin menjemput anaknya yang merupakan kakak kelas si gadis kecil itu. Gadis kecil itu terpaksa pulang bersama mereka. Tak apa-apa, pikirnya.

Tiba di rumah, masih belum terpecahkan mengapa seseorang tersebut tak menjemput gadis kecil itu. Lalu tiba-tiba rumahnya ramai sekali. Banyak keluarga datang, ia tak mengerti. Banyak tetangga datang, ia tak dapat memahami. Pun terdapat polisi yang datang. Ia masih tidak menyadarinya.

Perlahan malam mulai menghampiri. Ia diajak beranjak ke rumah neneknya, makin ramai suasana. Entah kenapa kerabat jauh saling berdatangan. Banyak doa yang terpanjat. Banyak kloter bergantian untuk shalat. Banyak tangan yang menyalaminya, mengelus lembut rambutnya. Banyak orang yang berusaha menggendongnya, pun adiknya. Banyak yang berusaha menjelaskan, tapi ia belum bisa memahami. Ia tidak menangis. Ia belum mengerti. Karena ia masih kecil, baru duduk di bangku kelas 1 SD, awal tahun pelajaran. Tapi hingga detik ini, memori itu masih terkenang jelas, tidak berkurang pun menghilang.

Lambat laun, ia mulai mengerti, ada sosok yang pergi jauh meninggalkannya. Sangat jauh hingga tak dapat kembali. Dan hari dimana semua itu terjadi adalah hari dimana ibunya bertambah usia. Hari dimana ia kehilangan sosok penting bagi hidupnya. Ini semua tidak adil, pikirnya. Hanya dalam hitungan jam. Kehidupan gadis kecil itu berubah. Entah firasat apa yang telah menghampirinya, mencoba memperingatkannya. Firasat yang datang sia-sia yang mungkin tak sempat terbaca. Mesin penenun senyum yang ia miliki tidak akan  bersamanya lagi. Dan mulai besok, gadis kecil itu bukan gadis kecil biasa lagi. Kejadian itu membuatnya lebih dewasa dari gadis seusianya.

Dan benar, hari ini, 15 tahun sejak kejadian itu terjadi, gadis kecil itu telah berubah menjadi seorang wanita yang tangguh. Meski tumbuh tanpa sosok pelindung di keluarganya. Meski ia terkadang mendapat pengganti sosok itu melalui kakak ipar ibunya. Dan meski kerap kali ia masih terbayang-bayang kejadian itu… Ia mulai rela. Ia harus sanggup mengikhlaskan. Mengingat semua ini, membuat ia menyadari, tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa..

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا. اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ. اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. 
 Artinya :
Wahai Allah, ampunilahrahmatailah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami (istri) yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula.
Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka. Wahai Allah berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang pria maupun wanita.
Wahai Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman. Wahai Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Tuhan lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

*buang napas* *tarik napas*
Pak, apa kabar di sana?
Gadis kecilmu ini sudah 21 tahun pak, sudah besar ya. Sudah lima belas tahun berlalu ternyata tak terasa ya. Banyak perkembangan mega yang bapak lewatkan lho pak.
Hehehe, maaf mega kadang masih ingat kejadian ini.
Mega hanya ingin bercerita di sini pak.
Tidak, mega tidak (terlalu) sedih kok.
Maaf kalau mega terlihat lemah dan cengeng. Kadang kalau ingat yang seperti ini, mega gampang sedih hehe. Sering kali mega terjebak oleh kenangan sendiri. Kenangan yang tiba-tiba menyeruak, tanpa permisi. Merenggut waktu begitu saja. Membuat kita tenggelam di dalamnya, tanpa tahu caranya kembali ke permukaan. Terjebak dalam rindu yang berlarut-larut mulai menyiksa. Karena rindu selalu datang tiba-tiba, di waktu dan tempat yang tidak kita duga. Bagaimana caranya menghindar dari terjebak kenangan sendiri? Belajar melupakan tidak pernah menjadi jawabnya. Berdamai dengan masa lalu yang harus dicoba. Berdamai, bukan melupakan.
Sudah-sudah, kenapa pula semakin banyak yang dibahas ya pak ya.

Oh ya, apakah kamu sudah bersyukur hari ini?
Sudah mendoakan orang tuamu di setiap sujudmu?
Semoga orang tua kita diberikan hidup yang sehat ya, begitu pula kita. Aamiin.

Selamat idul adha, selamat makan-daging-tanpa-henti untuk seminggu ke depan, dan juga selamat ulang tahun ibu.
Sudah dulu ya, sampai bertemu di tulisan yang lain.
Selamat sore menjelang malam.

Oleh Meganurainii.

Sunday, 11 September 2016

Satu Hari Sebelum

Satu hari sebelum kejadian itu terjadi, 15 tahun lalu.
Semakin dekat.
Sebentar lagi waktunya akan tiba.
Hanya dalam hitungan jam.
Kehidupan gadis kecil itu tidak akan pernah lagi sama.
Entah firasat apa yang menghampirinya, mencoba memperingatkannya.
Mesin penenun senyum yang ia miliki sebentar lagi meninggalkannya.

Oleh Meganurainii.