Laman

Sunday, 18 September 2016

Menanti Tulisanmu

Aku selalu menanti tulisanmu. 
Karena dari mana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. 
Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. 
Aku selalu menunggu tulisanmu. 
Karena dari mana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. 
Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. 
Itu pun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. 
Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. 
Karena dari mana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. 
Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. 
Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. 
Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini.
Teruslah menulis karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. 
Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.

-Kurniawan Gunadi


PS:
indah ya? tapi memang lebih cocok dari sudut pandang laki-laki, sih.

Tuesday, 13 September 2016

Pilihan

Lagi-lagi, hidup hanya soal pilihan
Memilih untuk bahagia atau pura-pura bahagia
Memilih ikhlas atau terpaksa
Memilih yang baik atau terbaik
Memilih datang di awal atau sengaja terlambat
Memilih berhusnudzon yang membuat hati damai, atau malah resah karena bersuudzon
Pun memilih prioritas dalam hidup
Setiap orang memiliki prioritasnya masing-masing
Yang menurut ia penting, mungkin tak cukup penting bagi yang lain
Semakin ke sini, kita semakin mengenal banyak orang
Tak sedikit pula sifat yang tak sesuai dengan diri sendiri
Meski sifat itu berbeda, ataupun sama, dengan diri sendiri, keduanya bisa melahirkan permasalahan
Tapi ada satu yang perlu dipahami: toleransi.
Terima dan maklumi.

Catatan selama kuliah,
Selasa, 24 Mei 2016.

Monday, 12 September 2016

Lima Belas Tahun Berlalu

Umm hai, selamat..sore? Atau mungkin selamat malam?
Hmm.. *tarik napas* *buang* *tarik napas*
Kuy dimulai…

Hari ini, 15 tahun lalu, ada seseorang yang tidak menepati janjinya menjemput gadis kecilnya dari sekolah. Yang seharusnya pulang jam 3 sore, hingga jam 5 pun tak ada tanda-tanda ia akan dijemput. Gadis kecil itu sampai menunggu sendirian, di ujung gang sekolahnya. Yang awalnya ada beberapa teman yang juga ikut menunggu jemputan, hingga tinggal ia seorang diri. Tak pernah seperti ini, pikirnya. Toh biasanya ia dijemput tepat waktu, dan hanya menunggu di depan sekolah saja, tak sampai berjalan ke ujung gang. Karena sekolahnya beberapa kilometer dari rumah, tak mungkin juga ia jalan kaki untuk pulang. Ia menunggu dengan sabar, tak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu. Hingga suatu ketika, ada yang mengenalinya, menyapanya. Sepasang suami istri, yang ternyata tetangganya, ingin menjemput anaknya yang merupakan kakak kelas si gadis kecil itu. Gadis kecil itu terpaksa pulang bersama mereka. Tak apa-apa, pikirnya.

Tiba di rumah, masih belum terpecahkan mengapa seseorang tersebut tak menjemput gadis kecil itu. Lalu tiba-tiba rumahnya ramai sekali. Banyak keluarga datang, ia tak mengerti. Banyak tetangga datang, ia tak dapat memahami. Pun terdapat polisi yang datang. Ia masih tidak menyadarinya.

Perlahan malam mulai menghampiri. Ia diajak beranjak ke rumah neneknya, makin ramai suasana. Entah kenapa kerabat jauh saling berdatangan. Banyak doa yang terpanjat. Banyak kloter bergantian untuk shalat. Banyak tangan yang menyalaminya, mengelus lembut rambutnya. Banyak orang yang berusaha menggendongnya, pun adiknya. Banyak yang berusaha menjelaskan, tapi ia belum bisa memahami. Ia tidak menangis. Ia belum mengerti. Karena ia masih kecil, baru duduk di bangku kelas 1 SD, awal tahun pelajaran. Tapi hingga detik ini, memori itu masih terkenang jelas, tidak berkurang pun menghilang.

Lambat laun, ia mulai mengerti, ada sosok yang pergi jauh meninggalkannya. Sangat jauh hingga tak dapat kembali. Dan hari dimana semua itu terjadi adalah hari dimana ibunya bertambah usia. Hari dimana ia kehilangan sosok penting bagi hidupnya. Ini semua tidak adil, pikirnya. Hanya dalam hitungan jam. Kehidupan gadis kecil itu berubah. Entah firasat apa yang telah menghampirinya, mencoba memperingatkannya. Firasat yang datang sia-sia yang mungkin tak sempat terbaca. Mesin penenun senyum yang ia miliki tidak akan  bersamanya lagi. Dan mulai besok, gadis kecil itu bukan gadis kecil biasa lagi. Kejadian itu membuatnya lebih dewasa dari gadis seusianya.

Dan benar, hari ini, 15 tahun sejak kejadian itu terjadi, gadis kecil itu telah berubah menjadi seorang wanita yang tangguh. Meski tumbuh tanpa sosok pelindung di keluarganya. Meski ia terkadang mendapat pengganti sosok itu melalui kakak ipar ibunya. Dan meski kerap kali ia masih terbayang-bayang kejadian itu… Ia mulai rela. Ia harus sanggup mengikhlaskan. Mengingat semua ini, membuat ia menyadari, tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa..

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ. اَللهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرَنَا وَكَبِيْرَنَا وَذَكَرِنَا وَاُنْثَانَا. اَللهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِيْمَانِ. اَللهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَلاَتُضِلَّنَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. 
 Artinya :
Wahai Allah, ampunilahrahmatailah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami (istri) yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula.
Masukkanlah dia kedalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka. Wahai Allah berikanlah ampun, kami yang masih hidup dan kami yang telah meninggal dunia, kami yang hadir, kami yang ghoib, kami yang kecil-kecil kami yang dewasa, kami yang pria maupun wanita.
Wahai Allah, siapapun yang Engkau hidupkan dari kami, maka hidupkanlah dalam keadaan iman. Wahai Allah janganlah Engkau menghalangi kami, akan pahala beramal kepadanya dan janganlah Engkau menyesatkan kami sepeninggal dia dengan mendapat rahmat-Mu wahai Tuhan lebih belas kasihan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

*buang napas* *tarik napas*
Pak, apa kabar di sana?
Gadis kecilmu ini sudah 21 tahun pak, sudah besar ya. Sudah lima belas tahun berlalu ternyata tak terasa ya. Banyak perkembangan mega yang bapak lewatkan lho pak.
Hehehe, maaf mega kadang masih ingat kejadian ini.
Mega hanya ingin bercerita di sini pak.
Tidak, mega tidak (terlalu) sedih kok.
Maaf kalau mega terlihat lemah dan cengeng. Kadang kalau ingat yang seperti ini, mega gampang sedih hehe. Sering kali mega terjebak oleh kenangan sendiri. Kenangan yang tiba-tiba menyeruak, tanpa permisi. Merenggut waktu begitu saja. Membuat kita tenggelam di dalamnya, tanpa tahu caranya kembali ke permukaan. Terjebak dalam rindu yang berlarut-larut mulai menyiksa. Karena rindu selalu datang tiba-tiba, di waktu dan tempat yang tidak kita duga. Bagaimana caranya menghindar dari terjebak kenangan sendiri? Belajar melupakan tidak pernah menjadi jawabnya. Berdamai dengan masa lalu yang harus dicoba. Berdamai, bukan melupakan.
Sudah-sudah, kenapa pula semakin banyak yang dibahas ya pak ya.

Oh ya, apakah kamu sudah bersyukur hari ini?
Sudah mendoakan orang tuamu di setiap sujudmu?
Semoga orang tua kita diberikan hidup yang sehat ya, begitu pula kita. Aamiin.

Selamat idul adha, selamat makan-daging-tanpa-henti untuk seminggu ke depan, dan juga selamat ulang tahun ibu.
Sudah dulu ya, sampai bertemu di tulisan yang lain.
Selamat sore menjelang malam.

Sunday, 11 September 2016

Satu Hari Sebelum

Satu hari sebelum kejadian itu terjadi, 15 tahun lalu.
Semakin dekat.
Sebentar lagi waktunya akan tiba.
Hanya dalam hitungan jam.
Kehidupan gadis kecil itu tidak akan pernah lagi sama.
Entah firasat apa yang menghampirinya, mencoba memperingatkannya.
Mesin penenun senyum yang ia miliki sebentar lagi meninggalkannya.

Seorang Diri

Berjuang seorang diri itu bukan perkara mudah
Tiada kawan
Tiada penyemangat
Tak ada yang mengingatkan
Pun tak ada yang menemani
Memikirkan semuanya seorang diri
Ketika yang lain sibuk sendiri
Ketika yang lain hanya tau hasil akhirnya
Banyak menuntut namun tak ada aksinya
Yang lain tak mengerti apa yang telah dilalui
Pernah mengulurkan tangan lalu hilang entah kemana
Hanya sepasang sepatunya yang setia bersamanya
Melangkah beribu langkah
Seorang diri
Berjuang seorang diri tidak pernah menyenangkan


Suatu catatan di kala pagi, di suatu hari
Sekian.

Friday, 9 September 2016

Surat untuk Lalang

Surat untuk Lalang
Oleh Aisyah Mega Nuraini

“Ketika tiba saat perpisahan, janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan. Seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan daratan.” –Kahlil Gibran
Begitulah kata sang pujangga, Kahlil Gibran. Jangan iringi perpisahan dengan berduka. Jika terlarut dalam kesedihan, kita mungkin tidak akan menyadari bahwa dari jauh, semuanya terlihat indah dan sempurna. Perpisahan itu bukan untuk dikekang atau ditangisi, perpisahan itu untuk dilewatkan, karena bagaimana pun perpisahan adalah awal perjalanan hidup yang panjang.
Berpisah dengan Desa Lalang merupakan awal perjalanan hidup kami, dan itu tidak akan pernah dilalui dengan mudah. Ucapan selamat tinggal, lambaian tangan terakhir, iringan tangis kepergian, suara pesawat terbang, dan hari dimana semua itu terjadi, tidak mudah terlupakan. Perpisahan menyisakan perasaan sedih dan asing. Sedih karena tidak akan berjumpa lagi. Dan asing karena meninggalkan rutinitas yang telah nyaman dilakukan.
Ada yang berbeda di pagi itu. Ketika seharusnya kami berpencar, keliling desa menjalankan program, kami justru asyik berkumpul. Berkumpul dengan suasana syahdu kesedihan. Kami akan berpamitan. Masa bakti kami telah berakhir. Dan mau tidak mau, kami harus pulang meninggalkan beribu kenangan di Desa Lalang.
Sudah 50 kali 24 jam kami tinggal sejenak di suatu desa bernama Desa Lalang. Jauh dari orang tua, jauh dari rutinitas perkuliahan, dan jauh pula dari kenyamanan hidup seperti di Yogyakarta. Terbang jauh menuju suatu desa di Belitung Timur tidak akan kami lakukan jika tidak ada kegiatan bernama KKN, Kuliah Kerja Nyata. Suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa UGM yang menuju tingkat akhir. Kami dituntut untuk mengabdikan ilmu yang telah diberikan di bangku perkuliahan, untuk masyarakat. Dan di Desa Lalang-lah yang kelompok kami pilih sebagai tempat kami mengabdi.
Desa Lalang yang terletak di Pulau Belitung ini menawarkan keindahan alam yang tiada habisnya, penduduk yang ramah nan baik hati dan seni serta budaya yang masih lestari. Semua itu sempat kami nikmati saat kami tinggal di sana. Keindahan alam sangat mudah untuk didapatkan. Pantai Nyiur Melambai dapat dinikmati hanya dengan berjalan kaki. Bukit Samak dengan keindahan pemandangan dari atas desa dapat menjadi alternatif pilihan di kala suntuk. Pantai Olipier dengan dermaga hancurnya dapat digunakan untuk memancing dan bersantai sejenak. Dan juga terdapat Kulong Minyak, dengan keunikan cerita di balik namanya sebagai tempat menikmati matahari tenggelam di tengah desa.
Ada satu lagi yang mudah ditemui di desa Lalang. Satu hal yang membuat kami berdecak kagum dan merasa tersanjung. Betapa baik dan ramah para penduduk desa ini. Tidak segan menolong dan sangat memuliakan tamu. Banyak undangan yang ditujukan pada kami. Mengundang kami untuk bercengkrama dan mampir untuk menyantap sajian terbaik yang mereka siapkan. Ajakan undangan itu pun bukan sekadar undangan basa-basi, melainkan undangan yang berasal dari hati. Pertolongan yang mereka berikan pun bukan main banyaknya. Jika kami meminta satu, maka mereka memberi sepuluh. Kami sudah seperti mendapat orang tua baru di tanah nan jauh dari asal kami. Kasih sayang mereka sudah selayaknya kasing sayang yang diberikan orang tua. Oleh karena itulah kami semakin betah tinggal di sana. Ada pula riuh keramaian adik-adik sekolah dasar. Mereka mendapatkan sosok kakak yang sekaligus banyak, pun kami yang mendapatkan sosok adik yang dapat kami sayangi.
Seni dan budaya sudah menjadi unsur lain bagi penduduk Desa Lalang untuk bernapas. Mereka tidak bisa terlepas dari dua hal itu dan sangat menghormati untuk melestarikannya. Seperti makan bedulang, likuran, keseninan rudat, ngelasak, musik campak, hadra, dan lain sebagainya. Dan beruntungnya kami, semua itu sempat kami nikmati selama tinggal di sana.
Terik matahari sangat berbeda dari yang biasa kami rasakan di Yogyakarta. Di Desa Lalang, panas matahari begitu hebat. Tetapi itu tidak menyurutkan niat dan tekad kami untuk melaksanakan program kami untuk Desa Lalang. Dengan adanya empat klaster, yaitu kesehatan, saintek, agro, dan soshum, membuat kerja kami semakin terfokus. Hampir setiap pagi kami berpencar keliling desa untuk menjalankan program kami, khusus untuk Desa Lalang. Tidak sedikit yang kurang lancar, tetapi tidak sedikit pula program yang dapat dikatakan berhasil.
Melalui program-program yang kami lakukan, kami tidak hanya mengabdikan ilmu yang kami miliki, tetapi juga kami berproses menuju kedewasaan. Kami pun banyak belajar dari para penduduk Desa Lalang melalui interaksi dengan mereka dan kebiasaan yang diajarkan.  Karena belajar tidak hanya melalui buku-buku dan bangku perkuliahan. Belajar bisa dari mana saja. Belajar mengenai teori dari sang ahli. Belajar penerapan ilmu dari yang lebih berpengalaman. Serta belajar bagaimana hidup bermasyarakat. Semua pelajaran yang kami dapatkan begitu berharga, tidak bisa dibeli dan digantikan dengan apapun.
Dan tibalah di suatu waktu kami harus pergi meninggalkan semua rutinitas kami. Berpisah bukan perkara yang mudah. Berpisah selalu diiringi dengan keresahan hati. Akankah bertemu kembali? Akankah merasakan perasaan yang sama? Dan akankah sanggup membendung rindu yang bertumpuk? Namun yang perlu diketahui adalah, perpisahan bukan akhir dari perjalanan, justru merupakan awal dari perjalanan yang panjang. Perjalanan penuh bekal hasil pembelajaran dan pendewasaan selama tinggal di Desa Lalang.

Jika ditawari untuk datang kembali ke desa ini, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menyanggupinya. Dan saat beberapa waktu lalu tiba di Yogyakarta, saya langsung rindu. Rindu rutinitas yang biasa dilakukan selama KKN. Rindu kasih sayang orang tua. Rindu menikmati seni dan budaya khas Desa Lalang. Dan rindu keindahan alam yang sangat memanjakan mata. Entah mengapa rindu ini begitu candu, harus diobati dengan bertemu. Sampai jumpa lagi, Lalang. Izinkan kami kembali, suatu saat nanti.

Jarak di Antara Kita

Jarak di antara kita
sedikit demi sedikit
mengkerut, memendek, lesap
seiring waktu dan lampu
memeluk kita, erat

ketika dua bahu
berkenalan. menyentuh. bertemu.
hangat yang memercik
membungkus sisi kota
lama.

malam tak lagi menakutkan
kau berpijar. aku ingin bersinar.
seperti percakapan tanpa arah
tanpa makna
tak mengapa

seperti lensa kamera
rana besar, diafragma lebar
fokusnya hanya satu
hanya satu
kamu

kan kuikat benang-benang waktu
pada keabadian di detik ini
sehingga
kelak kita
kembali pada detik yang sama

ia masih melayang
di titian keabadian
pada malam kau berpijar

dan aku ingin bersinar

by Alexander Thian a.k.a @amrazing

Indah ya sajaknya?
Terlalu indah hingga menyesakkan dada
Hmm

2016!

Um.. Hai.
Sudah 2016 saja.
Sudah berapa lama saya berwacana ria ingin menulis?
Jawabnya: sudah lama.

Ah, makin malam, makin cheesy.

Tunggu saja kelanjutannya ya.
Tapi, jangan berharap lebih, kalau jatuh sakit.
Sudah saya peringatkan lho ya.

Selamat malam.

Thursday, 14 May 2015

Kangen!

Huwaaaaa I miss blogging a lot. Gonna update some soon.

Almost 2 years I haven't visited this blog. And gonna edit mine, soon.

Semoga aja nggak wacana.

Too exciting to wait hihi.

Xoxo, m.